Sakarepologi Petani Pemula yang Menyesatkan

Banyak kesalahan petani pemula saat ia beralih ingin belajar jadi “petani berdasi” yang senyatanya memang sangat menjanjikan “imbal hasilnya” dan sangat bagus prospeknya.

Baik, mari kita coba kupas satu persatu apa kesalahan-kesalahan itu, sehingga kita tak perlu mengulangi kesalahan mereka berulang. Minimal kita tahu dulu potensi risikonya, dan kita bisa mengantisipasi atau mengukur tingkat kerugiannya.

  1. Malas belajar. Belajar adalah satu hal, tapi belajar dengan baik, benar, efektif dan berkesinambungan itu hal lainnya yang berbeda. Karenanya, teruslah belajar sampai kapan pun, bahkan bila Anda sudah memecahkan rekor hasil panen di dunia pun, belajar mah harus terus diasah.
  1. Belajar bertani tanpa coaching. Sebagaimana mempelajari disiplin ilmu sebuah profesi, ilmu bertani pun itu sebenarnya sangat tinggi, kompleks dan sangat menarik. Banyak pemula langsung praktek, namun tak tanya kiri dan kanan dulu, langsung aja praktek. Ya, tak apa sih sebenarnya. Tidak salah itu. Tapi siap-siap saja menerima risikonya, dan diulang menanam lagi dari nol.

Mending kita tanya sana-sini dulu, tanya pada praktisi sukses kalau ada. Kalau sulit, kontak Penyuluh Pertanian, Mbah Google. Dekati Oom YouTube. Dan tanyakan kepada mereka. Cari infonya langsung dari sumber terpercaya.

“… maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS An-Nahl: 43)

“…maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui (QS Al Anbya 21 : 43)

  1. Jangan sepelekan ilmu bertani. Mentang-mentang punya pupuk hayati yang bagus dan teruji di mana-mana, maka jangan bergantung pada pupuk hayati itu saja. Kita juga harus tahu pemilihan bibit yang bagus, cara menyimpan bibit, jarak tanam atau padat tebar, waktu menanam, cara memelihara tanaman / ternak, waktu pemberian pupuk hayati dan pupuk kimia, dan lain sebagainya. Tidak hanya dipertanian, di sector perkebunan, perikanan dan peternakan pun semua ada ilmunya.
  1. Salah proses pratanam. Proses pratanam itu sangat sensitif, terutama pada tanaman padi. Jadi benar-benar perhatikan sesuai SOP yang disarankan.

Jangan sekali-kali berkata atau punya anggapan bahwa “Semua Akan Indah Pada Waktunya”. Itu salah besar. Yang benar, buat segala sesuatunya jadi lebih baik dengan bantuan dan pelibatan Allah. Bukankah, “bersama kesulitan itu akan ada kemudahan” (Qs. Al insyirah) dan “Barangsiapa bertaqwa akan diberikan jalan keluar” (At tholaq; 2).

  1. Alat semprotan yang terkontaminasi. Alat semprotan sprayer itu banyak jenisnya. Ada yang yang manual, ada juga yang elektrik. Namun yang terpenting, jangan gunakan sprayer bekas pestisida untuk pupuk organic cair MaxiGrow MG1. Cuci dulu sampai tiga kali, cek keluarannya. Apakah masih berbau pestisida ? Kalau clear sudah tak bau, jemur dan baru gunakan untuk pupuk MG1.Syukur-syukur bisa beli baru khusus untuk pupuk hayati MaxiGrow.
  1. Waktu pemupukan siang hari. Bagusnya, waktu memupuk itu sebelum pukul 7 atau setelah pukul 16.30, atau saat matahari tidak terik. Karena saat matahari terik, pupuk kimia terutama, biasanya menguap.

Disisi lain, pemberian pupuk di sore hari dikhawatirkan sore atau malamnya turun hujan, sehingga pupuk tersebut hilang terbawa air hujan.

  1. Dosis yang kurang tepat. Dosis yang tepat ada pada SOP pemupukan. Bila kurang, rasanya kurang ngefek. Kalau lebih, itu pemborosan. Namun pemberian yang lebih dari pupuk hayati biasanya justru akan membaguskan hasil panen. Sebaliknya, pemberian pupuk kimia yang berlebihan justru akan merusak kandungan kesuburan tanah.
  1. Terlalu mempertuhankan produk. Pemilihan bibit yang unggul, pupuk hayati yang dahsyat, jadwal penanaman dan pemeliharaan yang terprogram, penggunaan teknologi pertanian lainnya, atau hal lainnya, adalah upaya kita untuk membaguskan hasil panen. Itu sih sah-sah saja. Tapi jangan berlebihan. Karenya, libatkan Allah Tuhan Semesta Alam sebelum, selama dan setelah penanaman hingga panen.

Nah, itu temen-temen yang sejumlah kesalahan-kesalahan yang selama ini saya  temukan pada para petani pemula.

Janganlah menganut ilmu sakarepologi yang sakarep-karep. Sakarep-karep itu berasal dari bahasa Sunda yang artinya lebih kurang “asal-asalan”, tanpa landasan ilmu, tanpa bertanya pada yang punya pengalaman panjang. Karenanya, bisa buahayya !

Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (BukhariI – 6015)

Lalu, bagaimana solusinya ?

Yuk kita pelajari tips sederhana ini : “10 Rahasia Sederhana Keberhasilan Panen yang Sering Terlupakan“. Insya Allah bermanfaat !

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s